Skip to main content

Membaca Borges dan Orang-Utan Abadi

Petani Tambak Lamongan Turun ke Jalan

Hari ini, para petani dari penjuru Lamongan datang ke gedung Sport Center Lamongan yang berada di jalan Basuki Rahmat untuk melakukan long march ke gedung DPRD Lamongan. Ketika sampai di depan gedung DPRD mereka mengajak ketua DPRD Lamongan untuk bergabung dalam barisan massa menuju ke gedung Pemkab.

Massa enggan menerima tawaran ketua DPRD agar perwakilan massa masuk ke gedung DPRD. Massa yang berlatar-belakang petani tambak ini memaksa ketua DPRD untuk ikut turun ke jalan. Bergabung dengan barisan para petani, jalan kaki ke gedung Pemkab untuk menemui Bupati Fadeli.

Aksi para petani ini dipicu oleh Peraturan Menteri Pertanian (PERMENPAN) nomor 1 tahun 2020. Tentang penghapusan subsidi untuk subsektor perikanan budidaya. Massa meminta agar diberikan batasan khusus pupuk subsidi bagi petani tambak di Lamongan. Serta mengembalikannya seperti pada tahun 2019 lalu.

Demonstrasi sempat diwarnai aksi saling dorong. Menuntut Bupati Lamongan segera keluar menemui massa. "Sama-sama masyarakat." Kata seorang orator aksi.

Lamongan, 6 Februari 2020
Timred-Ahmad Farid Yahya

Comments

Popular posts from this blog

Review Novel Dawuk

Oleh: Ahmad Farid Yahya Dawuk, sebuah novel peraih penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa 2017. Novel epik tulisan Mahfud Ikhwan, pria kelahiran Lembor Kecamatan Brondong Kabupaten Lamongan Jawa Timur. Cover terlihat ikonik dengan gambar ular dan kalajengking yang ditutup dengan block hitam dan terdapat tulisan "dawuk" di atasnya. Tulisan "dawuk" tersebut kalau dilihat lebih jeli ternyata terdapat pola seperti batik pada huruf-hurufnya. Desain cover dengan background kuning terkesan sederhana tapi bagus. Kata/judul "Dawuk" diambil dari julukan si tokoh utama dalam cerita. Plesetan dari nama Muhammad "Dawud". Selain itu Dawuk juga mengartikan warna yang begitu kusam, yang dalam bahasa Indonesia, warna yang bisa dibilang paling menyerupainya adalah warna abu-abu. Warna dawuk ini adalah penyebutan warna kambing, tentunya jenis kambing yang kusam. Tentang kambing berwarna dawuk ini juga pernah disinggung Mahfud Ikhwan dalam novel sebelumn...

Sajadah yang Kebesaran

Esai oleh: Ahmad Farid Yahya Sepele sekali ketika kita membawa sajadah ke masjid untuk salat jamaah. Salat jumat misalnya. Kita tahu sendiri salat jumat di masjid pasti ramai jamaahnya. Pada awalnya tak ada masalah memang dengan sajadah. Karena pada dasarnya sajadah memang diperlukan apabila lantai masjid kurang bersih. Karena keperluan atas sajadah inilah, maka terciptalah sebuah peluang pasar. Memicu para produsen untuk memproduksi sajadah. Ini terjadi karena sajadah memang telah menjadi hal yang lumrah untuk kita bawa ke masjid. Awalnya masalah remeh-temeh ini tak terlalu merisaukan. Salat di masjid membawa sajadah it's ok. Sering juga orang pulang dari ibadah haji lalu membagikan sajadah kepada orang yang bertamu ke rumahnya. Inti masalahnya adalah banyak sekali jamaah salat yang membawa sajadah dengan ukuran tidak biasa. Atau bisa dibilang lebih besar dari yang lain. Kelihatannya sepele. Tapi saat sajadah yang kebesaran ini disambungkan dengan keutamaan salat berj...

Resensi Novel Seorang Bocah yang Menyaksikan Kematian

Peresensi: Khoirul Abidin Judul Buku: Seorang Bocah yang Menyaksikan Kematian Penulis : Ahmad Farid Yahya Penerbit : CV Pustaka Ilalang  Cetakan : Pertama, Februari 2020 Tebal: viii + 124 halaman; 14,5 x 21 cm ISBN: 978-623-7731-19-1 Sebuah Usaha Merawat Kenangan Hari ini adalah kenangan hari esok. Pasti. Tersebab itu, menuangkan kenangan menjadi tulisan merupakan cara terbaik untuk menjaga dan merawatnya. Tidak ada kata sia dalam memelihara kenangan, sebagaimana baiknya hidup berkaca dari belakang, kejadian atau peristiwa pada masa lalu. Novel Seorang Bocah yang Menyaksikan Kematian, memoar karya Ahmad Farid Yahya merupakan salah satu wujud perawatan kenangan. Sesuai dengan kategorinya, novel memoar ini merangkum segala peristiwa hasil perjalanan hidup selama belasan tahun --mulai bayi, anak-anak, hingga remaja jelang dewasa. Seorang Bocah (yang Menyaksikan Kematian), yang lantas menjadi tokoh utama dalam novel memoar ini bukan lain penulis sendiri. Terang Farid memosi...