Skip to main content

Membaca Borges dan Orang-Utan Abadi

Review Novel Dawuk

Oleh: Ahmad Farid Yahya
Dawuk, sebuah novel peraih penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa 2017. Novel epik tulisan Mahfud Ikhwan, pria kelahiran Lembor Kecamatan Brondong Kabupaten Lamongan Jawa Timur.

Cover terlihat ikonik dengan gambar ular dan kalajengking yang ditutup dengan block hitam dan terdapat tulisan "dawuk" di atasnya. Tulisan "dawuk" tersebut kalau dilihat lebih jeli ternyata terdapat pola seperti batik pada huruf-hurufnya. Desain cover dengan background kuning terkesan sederhana tapi bagus.

Kata/judul "Dawuk" diambil dari julukan si tokoh utama dalam cerita. Plesetan dari nama Muhammad "Dawud". Selain itu Dawuk juga mengartikan warna yang begitu kusam, yang dalam bahasa Indonesia, warna yang bisa dibilang paling menyerupainya adalah warna abu-abu. Warna dawuk ini adalah penyebutan warna kambing, tentunya jenis kambing yang kusam. Tentang kambing berwarna dawuk ini juga pernah disinggung Mahfud Ikhwan dalam novel sebelumnya yaitu Kambing dan Hujan.

Sedangkan ilustrasi ular dan kalajengking diambil dari cerita pada novel ini. Di mana istri Mat Dawuk--si tokoh utama--diperkosa oleh dua orang yaitu seorang pegawai perhutani dan seorang blandong kayu. Ketika hendak ke hutan mencari buah kecacil untuk istrinya yang ngidam, Mat Dawuk bertemu dua orang itu dan bercakap-cakap sejenak. Setelahnya, Mat Dawuk tetap meneruskan perjalanan ke hutan. Dua orang tadi menaiki motor dan melaju ke gubuk (rumah) Mat Dawuk untuk memperkosa istrinya. Sementara di hutan, Mat Dawuk mendapat firasat ketika ia digigit ular dan disengat kalajengking. Seketika ia berlari ke rumah, bahkan bisa dibilang terbang. Namun ketika sudah sampai rumah ia menemukan istrinya tergeletak dengan banyak darah. Kedua pemerkosa tadi ketakutan lalu salah seorang mengambil kapak untuk dipakai memukul Mat Dawuk, tapi ternyata mengenai temannya sendiri. Darah muncrat dan ia melarikan diri. Mat Dawuk membawa istrinya ke puskesmas dengan berlari kencang, dan bisa dikatakan benar-benar terbang. Nyawa istrinya tak tertolong, malah ia dituduh membunuh si pemerkosa istrinya--pegawai perhutani. Mat Dawuk diamuk massa sampai tubuhnya remuk dan gepeng sepertu kertas. Absurd.

Di sini Mahfud Ikhwan terlihat sudah sekelas Andrea Hirata. Bahkan gaya berceritanya, kearifan lokalnya mengingatkan pada gaya Andrea dengan kearifan minangnya. Hanya saja Mahfud Ikhwan lagi-lagi memakai latar tempat pesisir utara Lamongan, di sebuah desa di kecamatan Brondong. Di desa bernama Rumbuk Randu, yang pada cerita ini ternyata adalah tetangga desa Tegal Centong--latar novel Kambing dan Hujan. Bagi saya pribadi, saya lebih suka kisah novel Dawuk daripada Kambing dan Hujan.

Gaya berceritanya begitu kuat. Untuk menggambarkan nama tokoh saja ada cerita-cerita di baliknya. Jadi nama-nama tokoh bukan sesuatu yang dipilih secara serampangan. Itulah sebabnya nama tokoh dalam novel ini begitu melekat di ingatan. Sebut saja Warto Kemplung, si pencerita kisah Mat Dawuk. Adalah seseorang yang suka bercerita, dan cerita-ceritanya bisa kita anggap kibul saja. Seperti kisah Dawuk yang sebenarnya kibulan dari Warto Kemplung tersebut. Makanya namanya Warto (warta/memberitakan) Kemplung (kibul). Inilah menariknya, berhubung kisah ini cuma kibulan dari Warto Kemplung, jadi kita banyak menemui cerita-cerita absurd, mistis, lucu sekaligus menjengkelkan. Seperti ketika Mat Dawuk bisa terbang, tubuhnya gepeng seperti kertas tapi beberapa hari berangsur kembali seperti semula, dan juga tokoh Mat Dawuk yang sebenarnya--di akhir novel disebutkan--menaiki motor RX King dan berjaket kulit. Imajinasi kita dibuat melayang-layang oleh Warto Kemplung sialan itu.

Penggambaran asal-usul tokoh dan penyebab-penyebab konflik bisa diterima sekalipun novel ini absurd. Meski cerita itu kibul, tapi kalian pasti sekali waktu pernah juga tertipu oleh ucapan kibul bukan? Karena penggambarannya begitu natural.

Hanya saja pada buku-buku Mahfud Ikhwan termasuk Dawuk ini ada penulisan yang tak biasa. Yaitu penggunaan penjelasan peristiwa di dalam kurung. Hal ini biasa kita temukan dalam buku nonfiksi, tetapi dalam sebuah novel sangat jarang terjadi. Mahfud Ikhwan sendiri mengungkapkan kalau ia tak suka novel dengan catatan kaki sehingga ia menggunakan tanda kurung. Penulis-penulis lain barangkali menggambarkan penjelasan peristiwa atau hal-hal itu dengan narasi pada cerita dan lain sebagainya. Tapi Mahfud Ikhwan memilih menggunakan tanda kurung dan mengambil jarak dari cerita (seperti pendapat pribadi seorang dalang ketika menceritakan sebuah cerita). Selain itu, novel Dawuk dan Kambing dan Hujan banyak ditemukan tanda elipsis. Tetapi, bisa jadi penggunaan tanda kurung dan tanda elipsis ke depan akan menjadi ciri khas Mahfud Ikhwan.

***

Novel Dawuk ini mengingatkan saya dengan buah kecacil yag pernah saya icipi sekali, sewaktu SMP, dan hanya sekali itu saja. Sampai brtahun-tahun saya ingin mencicipi buah itu lagi tapi tak pernah kesampaian.

Comments

Popular posts from this blog

Resensi Novel Seorang Bocah yang Menyaksikan Kematian

Peresensi: Khoirul Abidin Judul Buku: Seorang Bocah yang Menyaksikan Kematian Penulis : Ahmad Farid Yahya Penerbit : CV Pustaka Ilalang  Cetakan : Pertama, Februari 2020 Tebal: viii + 124 halaman; 14,5 x 21 cm ISBN: 978-623-7731-19-1 Sebuah Usaha Merawat Kenangan Hari ini adalah kenangan hari esok. Pasti. Tersebab itu, menuangkan kenangan menjadi tulisan merupakan cara terbaik untuk menjaga dan merawatnya. Tidak ada kata sia dalam memelihara kenangan, sebagaimana baiknya hidup berkaca dari belakang, kejadian atau peristiwa pada masa lalu. Novel Seorang Bocah yang Menyaksikan Kematian, memoar karya Ahmad Farid Yahya merupakan salah satu wujud perawatan kenangan. Sesuai dengan kategorinya, novel memoar ini merangkum segala peristiwa hasil perjalanan hidup selama belasan tahun --mulai bayi, anak-anak, hingga remaja jelang dewasa. Seorang Bocah (yang Menyaksikan Kematian), yang lantas menjadi tokoh utama dalam novel memoar ini bukan lain penulis sendiri. Terang Farid memosi...

Seseorang yang Sudah Tak Mau Mendengar Apa Pun Tentang Corona

Oleh: Ahmad Farid Yahya Hujan datang dua kali. Yang pertama bikin jalanan lobang. Yang kedua bikin banjir sepertiga kabupaten. Segerombol orang membantu sesama. Selalu tak lepas dari politik identitas. Memakai pakaian hijau-hijau, ada yang hitam-hitam, ada yang pakai masker, atau bagi-bagi hand sanitizer. Maskernya pun beragam. Ada yang menyerupai masker medis, ada yang masker kain, ada yang masker ala artis Korea, ada yang masker ala Wibu, ada yang masker bersablon. Untuk yang terakhir bukan termasuk politik identitas. Itu politik praktis. Maskernya bersablon nama calon bupati. Salat jumat ditiadakan. Banyak pro-kontra. Dengan dalil sana-sini. Dengan menyalahkan sana-sini. Semua ini membuatku pusing! Sudah sejak Januari lalu kita membahas virus sialan itu. Sudah sejak bulan itu pula kita keluarkan berbagai macam teori konspirasi. Maret, April, Mei, Juni, semestinya "kita saling menyatu". Bukan lagi waktunya membahas virus sialan itu. Meski membedah virus bla bla ...

Sajadah yang Kebesaran

Esai oleh: Ahmad Farid Yahya Sepele sekali ketika kita membawa sajadah ke masjid untuk salat jamaah. Salat jumat misalnya. Kita tahu sendiri salat jumat di masjid pasti ramai jamaahnya. Pada awalnya tak ada masalah memang dengan sajadah. Karena pada dasarnya sajadah memang diperlukan apabila lantai masjid kurang bersih. Karena keperluan atas sajadah inilah, maka terciptalah sebuah peluang pasar. Memicu para produsen untuk memproduksi sajadah. Ini terjadi karena sajadah memang telah menjadi hal yang lumrah untuk kita bawa ke masjid. Awalnya masalah remeh-temeh ini tak terlalu merisaukan. Salat di masjid membawa sajadah it's ok. Sering juga orang pulang dari ibadah haji lalu membagikan sajadah kepada orang yang bertamu ke rumahnya. Inti masalahnya adalah banyak sekali jamaah salat yang membawa sajadah dengan ukuran tidak biasa. Atau bisa dibilang lebih besar dari yang lain. Kelihatannya sepele. Tapi saat sajadah yang kebesaran ini disambungkan dengan keutamaan salat berj...