Skip to main content

Membaca Borges dan Orang-Utan Abadi

Derai-Derai Cemara


Cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam

Aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini

Hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah

(Puisi Chairil Anwar, 1949)

Comments

Popular posts from this blog

Review Novel Dawuk

Oleh: Ahmad Farid Yahya Dawuk, sebuah novel peraih penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa 2017. Novel epik tulisan Mahfud Ikhwan, pria kelahiran Lembor Kecamatan Brondong Kabupaten Lamongan Jawa Timur. Cover terlihat ikonik dengan gambar ular dan kalajengking yang ditutup dengan block hitam dan terdapat tulisan "dawuk" di atasnya. Tulisan "dawuk" tersebut kalau dilihat lebih jeli ternyata terdapat pola seperti batik pada huruf-hurufnya. Desain cover dengan background kuning terkesan sederhana tapi bagus. Kata/judul "Dawuk" diambil dari julukan si tokoh utama dalam cerita. Plesetan dari nama Muhammad "Dawud". Selain itu Dawuk juga mengartikan warna yang begitu kusam, yang dalam bahasa Indonesia, warna yang bisa dibilang paling menyerupainya adalah warna abu-abu. Warna dawuk ini adalah penyebutan warna kambing, tentunya jenis kambing yang kusam. Tentang kambing berwarna dawuk ini juga pernah disinggung Mahfud Ikhwan dalam novel sebelumn...

Sajadah yang Kebesaran

Esai oleh: Ahmad Farid Yahya Sepele sekali ketika kita membawa sajadah ke masjid untuk salat jamaah. Salat jumat misalnya. Kita tahu sendiri salat jumat di masjid pasti ramai jamaahnya. Pada awalnya tak ada masalah memang dengan sajadah. Karena pada dasarnya sajadah memang diperlukan apabila lantai masjid kurang bersih. Karena keperluan atas sajadah inilah, maka terciptalah sebuah peluang pasar. Memicu para produsen untuk memproduksi sajadah. Ini terjadi karena sajadah memang telah menjadi hal yang lumrah untuk kita bawa ke masjid. Awalnya masalah remeh-temeh ini tak terlalu merisaukan. Salat di masjid membawa sajadah it's ok. Sering juga orang pulang dari ibadah haji lalu membagikan sajadah kepada orang yang bertamu ke rumahnya. Inti masalahnya adalah banyak sekali jamaah salat yang membawa sajadah dengan ukuran tidak biasa. Atau bisa dibilang lebih besar dari yang lain. Kelihatannya sepele. Tapi saat sajadah yang kebesaran ini disambungkan dengan keutamaan salat berj...

Resensi Novel Seorang Bocah yang Menyaksikan Kematian

Peresensi: Khoirul Abidin Judul Buku: Seorang Bocah yang Menyaksikan Kematian Penulis : Ahmad Farid Yahya Penerbit : CV Pustaka Ilalang  Cetakan : Pertama, Februari 2020 Tebal: viii + 124 halaman; 14,5 x 21 cm ISBN: 978-623-7731-19-1 Sebuah Usaha Merawat Kenangan Hari ini adalah kenangan hari esok. Pasti. Tersebab itu, menuangkan kenangan menjadi tulisan merupakan cara terbaik untuk menjaga dan merawatnya. Tidak ada kata sia dalam memelihara kenangan, sebagaimana baiknya hidup berkaca dari belakang, kejadian atau peristiwa pada masa lalu. Novel Seorang Bocah yang Menyaksikan Kematian, memoar karya Ahmad Farid Yahya merupakan salah satu wujud perawatan kenangan. Sesuai dengan kategorinya, novel memoar ini merangkum segala peristiwa hasil perjalanan hidup selama belasan tahun --mulai bayi, anak-anak, hingga remaja jelang dewasa. Seorang Bocah (yang Menyaksikan Kematian), yang lantas menjadi tokoh utama dalam novel memoar ini bukan lain penulis sendiri. Terang Farid memosi...