Skip to main content

Membaca Borges dan Orang-Utan Abadi

Menuliskan Angan-Angan, Menceritakan Pengalaman : sebuah pembacaan atas buku Upacara Penyeretan Jiwa karya Ahmad Farid Yahya


Khoirul Abidin*

Dari harapan dan pengalaman, lahirlah sebuah buku Upacara Penyeretan Jiwa (sepilihan cerpen) ini. Serupa kue lapis, sepuluh "pilihan" cerita pendek dalam buku yang terbilang ramping atau tipis ini disajikan dengan berbagai warna; tema.

Pada bagian awal penulis seakan mengingatkan, bahwa hidup memang penuh dengan kejutan. Apa-apa yang akan terjadi di hari depan, manusia tiada pernah bisa menebak. Untuk itu, usaha dan doa mesti selalu diselaraskan—mengingat Waktu-lah penentunya.

Cinta itu buta dan tuli, lirik Lagu Galau Al Ghazali, barangkali itu yang menuntun tokoh utama dalam cerpen pembuka berjudul "Hanya Aku, dan Seumur Hidup", untuk membunuh kekasih terkasih dengan tangannya sendiri.

"Aku mana bisa membiarkanmu dicintai semua orang, diperjuangkan semua orang, dan dimiliki semua orang. Aku hanya ingin kau menjadi milikku ...." Begitulah suara hati lelaki tanpa nama yang terbaca pada halaman 3. Ada kecemasan, ketakutan yang melingkari hatinya, sehingga sampai hati menghabisi nyawa sang kekasih, demi cinta yang abadi. Gila, tapi siapa pula rela melihat seorang terkasih dekat dengan orang (lawan jenis) lain? Sedang tahu belaka, bahwa cinta tumbuh karena terbiasa.

Kisah cinta yang cukup memeras perasaan juga terbaca pada cerpen kedua, "Weton". Dalam budaya Jawa, weton merupakan hari pasaran (peringatan) yang menunjukkan hari kelahiran seseorang. Tak dimungkiri, meski teknologi berkembang sedemikian hebat dan menyeret tidak sedikit orang pada kebiasaan baru: menjual-membeli baju, dll., menyebar undangan, dsb. secara online misalnya. Akan tetapi, weton masih juga menjadi pertimbangan dalam banyak hal bagi orang Jawa atau setidaknya masyarakat kampung saya di Kota Lamongan; menentukan kecocokan pasangan, misalnya. 

Dikisahkan sepasang kekasih tak berdaya melawan hitung-hitungan—hari lahir dan pasaran—Jawa. Mereka—tepatnya si lelaki saja—tak berani mengambil risiko dengan mengabaikan salah satu budaya Jawa tersebut. "Dik, luka sedikit apa pun kau nanti kalau bersuami aku, akan tetap dan terus saja dikait-kaitkan dengan masalah weton ini." (Halaman 10-11).

Hidup kerap menghadapkan manusia pada pilihan, memang, dan harapan lebih sering memberikan luka, sialnya, masa lalu selalu jadi bayangan. Kenyataan tersebut terbaca pada cerpen "Sukirno". Aroma satire mulai menguar di lembaran ini. Sebagai petani tembakau yang segala kebutuhan hidupnya tercukupi dari tanaman tembakau, Sukirno sakit hati mendengar pernyataan: rokok merusak kesehatan, bahkan haram. Satu lagi: "Tembakau sialan. Aku menjualmu dengan harga murah. Lalu kenapa kau dijual dengan harga sangat mahal hanya karena sudah digulung dan dibungkus lalu diberi label pabrik rokok terkenal?" (halaman 15).

Adapun cerita tentang seorang mahasiswa kritis yang diringkus satpam kampus hanya gegara stroy WhatsApp. Sayangnya, sejak mendapat beasiswa dari kampus, tangan mahasiswa itu tiba-tiba lumpuh untuk menulis kritikan terhadap kampus.

"Kita semua tahu bahwa mahasiswa adalah aset berharga kampus. Atau boleh dibilang mahasiswa adalah proyekan kampus. Dari dompet-dompet mereka akan terbang lembar demi lembar uang ke rekening kampus ...." (Halaman 59). Itu pandangan penulis yang terlukis pada cerpen "Beasiswa, Maba, dan Mahasiswa Adalah Proyek".

Lewat buku ini, Ahmad Farid Yahya juga menceritakan perihal perubahan zaman, yang mana pada masa kini manusia dan ponsel seperti pasangan pengantin baru; ke mana-mana berdua dan enggan berpisah barang sedetik saja. "Padahal dengan mati lampu, sebagai orang dewasa aku merasa sangat resah. Bagaimana nanti aku mengisi daya HP-ku ketika baterainya habis kalau mati lampu begini?" (Halaman 51).

Tak hanya itu, penulis pun menyelundupkan kebiasaan yang ada di lingkungan sekitarnya. Seperti pada cerpen keempat yang sekaligus diambil sebagai judul buku, penulis bercerita perihal tetabuhan pada bulan Ramadan. Itu merupakan tradisi bocah ndeso pada awal pagi jelang sahur selama bulan puasa.

Sementara pada cerpen penutup, penulis menyuguhkan minuman khas Tuban, Tuak, yang sebenarnya telah dibahas pada Sukirno: "Beli Tuwak di Tuban. Biasa, Pak. Masak ada orkes enggak ada Tuwak, kan ada yang kurang gitu loh." (Halaman 18).

Sebagaimana dikatakan penulis pada Sebuah Pengantar: Dari 10 cerpen yang terdapat dalam buku ini sebagian besar memiliki benang merah, yakni kematian dan kelokalan Jawa. Meski ada yang sama sekali terlepas dari kedua unsur tersebut.

Penulis merupakan alumnus UNISDA Lamongan program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Kendati demikian, penulisan cerita dalam buku ini hampir sesuai dengan KBBI, hanya satu dua penulisan kata "dan" setelah tanda titik atau di awal kalimat. Namun begitu, itu tidak mengurangi kenikmatan memakan kue lapis bikinan Farid ini.


*Khoirul Abidin, S.Pd. cerpenis asal Duriwetan, Maduran, Lamongan.

Comments

  1. Ulasan yang enak dibaca. Membaca ulasan ini seolah jadi mengerti apa saja yang ingin diutarakan Penulis dalam bukunya, tentu saja perkara-perkara yang dekat dengan kita namun kerap dilupakan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih atas komentarnya.

      Semoga "kami" bisa lebih baik lagi.

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Membaca Borges dan Orang-Utan Abadi

Peresensi: Ahmad Farid Yahya* Buku ini seperti sebuah pintu gerbang yang disajikan oleh penulis untuk mengenal Edgar Allan Poe lewat Jorge Luis Borges. Sebuah buku yang bertebaran komentar-komentar sastra brilian. Borges dan Orang-Utan Abadi merupakan novela terjemahan karya penulis asal Brazil. "Luis Fernando Verissimo adalah salah satu penulis Brasil paling populer berkat kolom satirnya di mingguan nasional Veja. Dia juga seorang novelis, penulis cerita pendek, penyair, kartunis, dan musisi kenamaan. Selain Borges and the Eternal Orang-Utans (2000), karyanya yang lain adalah The Club of Angels (1998), dan The Spies (2009) (halaman iii)." Karya ini diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Lutfi Mardiansyah, dan diterbitkan oleh Penerbit Trubadur. Novela ini bercerita tentang seorang penulis dan penerjemah bernama Vogelstein yang sedang mengikuti konferensi perkumpulan Israfel di Buenos Aires. Kita tahu bahwa Buenos Aires adalah tempat tinggal Jorge Luis Borges. Pada judu...

Seseorang yang Sudah Tak Mau Mendengar Apa Pun Tentang Corona

Oleh: Ahmad Farid Yahya Hujan datang dua kali. Yang pertama bikin jalanan lobang. Yang kedua bikin banjir sepertiga kabupaten. Segerombol orang membantu sesama. Selalu tak lepas dari politik identitas. Memakai pakaian hijau-hijau, ada yang hitam-hitam, ada yang pakai masker, atau bagi-bagi hand sanitizer. Maskernya pun beragam. Ada yang menyerupai masker medis, ada yang masker kain, ada yang masker ala artis Korea, ada yang masker ala Wibu, ada yang masker bersablon. Untuk yang terakhir bukan termasuk politik identitas. Itu politik praktis. Maskernya bersablon nama calon bupati. Salat jumat ditiadakan. Banyak pro-kontra. Dengan dalil sana-sini. Dengan menyalahkan sana-sini. Semua ini membuatku pusing! Sudah sejak Januari lalu kita membahas virus sialan itu. Sudah sejak bulan itu pula kita keluarkan berbagai macam teori konspirasi. Maret, April, Mei, Juni, semestinya "kita saling menyatu". Bukan lagi waktunya membahas virus sialan itu. Meski membedah virus bla bla ...

Resensi Novel Seorang Bocah yang Menyaksikan Kematian

Peresensi: Khoirul Abidin Judul Buku: Seorang Bocah yang Menyaksikan Kematian Penulis : Ahmad Farid Yahya Penerbit : CV Pustaka Ilalang  Cetakan : Pertama, Februari 2020 Tebal: viii + 124 halaman; 14,5 x 21 cm ISBN: 978-623-7731-19-1 Sebuah Usaha Merawat Kenangan Hari ini adalah kenangan hari esok. Pasti. Tersebab itu, menuangkan kenangan menjadi tulisan merupakan cara terbaik untuk menjaga dan merawatnya. Tidak ada kata sia dalam memelihara kenangan, sebagaimana baiknya hidup berkaca dari belakang, kejadian atau peristiwa pada masa lalu. Novel Seorang Bocah yang Menyaksikan Kematian, memoar karya Ahmad Farid Yahya merupakan salah satu wujud perawatan kenangan. Sesuai dengan kategorinya, novel memoar ini merangkum segala peristiwa hasil perjalanan hidup selama belasan tahun --mulai bayi, anak-anak, hingga remaja jelang dewasa. Seorang Bocah (yang Menyaksikan Kematian), yang lantas menjadi tokoh utama dalam novel memoar ini bukan lain penulis sendiri. Terang Farid memosi...